Cerita Sex My Boss!!! – Part 22

Cerita Sex My Boss!!! – Part 22by adminon.Cerita Sex My Boss!!! – Part 22My Boss!!! – Part 22 My Bos Chapter 8 Sheila POV Setelah kejadian dokter-dokteran bodoh itu aku mengurung diri di kamar sampai pagi, tak kupedulikan ketukan di pintu kamar dengan suara Rendra yang terus menyuruhku membukanya. Aku sangat kesal saat itu, hingga malam aku mendiamkannya dan memilih untuk tidak menghiraukan dia. Siapa yang tidak kesal […]

tumblr_nj081xDDfI1qendtwo1_540 tumblr_nk9qpyjteB1sj237qo1_540 tumblr_nkhhhmx9Kn1r8akmko1_540My Boss!!! – Part 22

My Bos Chapter 8
Sheila POV

Setelah kejadian dokter-dokteran bodoh itu aku mengurung diri di kamar sampai pagi, tak kupedulikan ketukan di pintu kamar dengan suara Rendra yang terus menyuruhku membukanya. Aku sangat kesal saat itu, hingga malam aku mendiamkannya dan memilih untuk tidak menghiraukan dia. Siapa yang tidak kesal dengan permainannya yang keterlaluan itu, padahal nafsuku sudah di ujung tanduk tapi dia malah tersenyum mengejek dan malah mengabaikan permohonanku. Padahal aku sudah merendahkan diri untuk memohon padanya. Huh. Lelaki itu memang bodoh dan menyebalkan.

Besoknya aku masih tetap dengan aksi diamku, memilih untuk mengunjungi tempat Ami yang katanya sudah menemukan tempat tinggal untuk kutempati. Lebih cepat lebih baik kukira, karena dengan begitu aku bisa lepas dari kekangan Rendra bosku yang arogan. Setidaknya pulang bekerja aku tak akan melihat wajahnya.
Sekarang aku sedang berdiri di depan apartement Ami, yah dia memang tinggal dengan pacarnya, tapi dia bilang hari ini pacarnya sedang tidak ada di sana, entahlah aku tak menanyakan lebih lanjut. Kuketuk pintu apartementnya, Ami panggilku setengah berteriak namun tak ada jawaban, bahkan saat menekan bel pun tak ada tanda bahwa ada orang di dalam. Apa mungkin wanita itu pergi? Tapi kan dia sudah janji padaku. Dengan pelan kucoba membuka pintunya dan.. wow, ternyata tidak dikunci. Ceroboh. Aku sedikit mengintip ke dalam, terlihat sepi rupanya. Dengan handphone di tangan yang terus menerus mencoba menghubunginya aku melangkahkan kakiku untuk masuk, mengedarkan pandanganku ke sekeliling ruangan ini sebelum kemudian telingaku menangkap suara-suara aneh dari dalam kamar.

Ahh..uhhh.ahh..

Tunggu, apa itu suara desahan? Biasanya pada saat seperti ini rasa ingin tahuku muncul seketika, suara yang kuyakin berada di balik pintu kamar beberapa meter di depanku ini sangat menggoda rasa penasaranku. Dengan pelan aku melangkah, mendekati pintu itu dan menempelkan telingaku di sana.

Sayang.. ayo cepat.. ah ..ah..

Ya ampun apa yang mereka lakukan? Apa itu Ami? Apa mereka sedang melakukan seks? Beberapa pertanyaan berkelebat di benakku.

Masukan sekarang babe..yeah.. ukh.. akhh.. suara Ami sungguh seksi, hm apakah suara perempuan yang mendesah memang ditakdirkan untuk seksi? Dan sial. Aku jadi teringat kejadian kemarin. Bahkan Ami mengatakan sekali saja lelakinya sudah mengerti dan melakukannya dengan sukarela. Apa yang terjadi kemarin sangat merusak moodku. Lelaki bodoh itu.

Ohhkenapa suka sekali dengan payudaraku babe.. dari tadi kau memainkan yang itu saja..ahh ahh.. ucap suara yang kukira itu adalah Ami. Wow, jadi sekarang adegan hisap-menghisap ya?

Hmpphh.. aku sedang dalam masa pertumbuhan babe tentu saja butuh susulagipula.. kau suka kan??hahaha Hmmpppphh, jawab lelaki di sana, lalu terdengar suara cekikikan dari wanita itu sebelum kembali mengerang dan mendesah. Apa dia bilang? Masa pertumbuhan?? Jawaban apa itu? Bodoh sekali. Tapi.. apa Rendra juga berpikir hal yang sama tentang payudaraku yah? Hmm.. payudaraku tak kecil, tapi kalo dibilang besar sih tidak terlalu besar juga, hanya sedikit lebih besar dari genggaman tangannya, sedikit saja, dia suka payudaraku tidak ya? Apa dia suka yang besar? Seperti Julia perez misalnya dan.. arghh.. kenapa aku jadi memikirkan lelaki itu? Hush hush.. pergi kau dari otakku.

Aku keluar sayang.. .hah hah hah.. wow pria itu kuat juga, dia kelihatan sangat puas sekali. Sepertinya aku harus segera berbenah agar tidak ketahuan sedang menguping, maksudku .. tidak sengaja menguping.

Babe.. tadi sepertinya ada tamu..

Ah.. Sheila meneleponku! Dia janji mau datang hari ini! jeritan Ami membuatku sedikit berlari menjauhi kamar itu.

Aku yang tidak mau disangka yang tidak-tidak oleh mereka segera berbenah dan pura-pura duduk santai di sofa sambil membuka majalah yang tergeletak secara terbuka di meja. Dengan menopang kaki kanan di atas kaki kiriku aku membolak-balik halamannya.

Sheila kamu disini? Sejak kapan?? Ami yang tidak lama kemudian keluar dari kamar segera menghampiriku memelukku.

Hm.. sepertinya kau sangat menikmati permainanmu, sampai-sampai tidak menjawab teleponku dan mengabaikanku di depan pintu tanpa membukanya, dan maaf kalau aku tidak sopan. Pintunya tidak terkunci, paparku menjelaskan kenapa aku di sini.

Ow.. um.. jadi.. kau tahu? Kau mendengarnya? Haha.. kukira suara kami benar-benar keras ya..oh iya pacarku sedang tidur setelah kegiatan kami, dia tidak jadi pergi dengan hari ini, ungkit Ami yang malah terkikik geli. Bukannya malu. Dasar gadis itu.

Oke, aku tidak akan membicarakan pacarmu dan apa yang kau kerjakan tadi, tapi ini tentang tempat tinggalku,

Ah, benar sekali. Maafkan aku, baiklah sebenarnya itu milik sepupuku, tapi dia sudah menikah sekarang dan punya rumah baru, jadi dia berniat untuk menyewakan apartement miliknya. Yah, daripada tidak ada yang merawatnya.

Um.. apa mahal? ragu aku menanyakannya karena jujur saja keuanganku sudah sulit. Aku butuh semua hal yang murah sekarang.

Haha. Tenang saja, sepupuku sangat kaya jadi dia tak mempermasalahkannya sama sekali, malah dia memberikannya padaku untuk kutempati dan kurawat, jadi kupikir lebih baik kusewakan padamu. Kau boleh membayarnya kapanpun dan berapapun. Jawabannya melegakan hatiku. Dia mengedipkan matanya sambil tersenyum.

Benarkah? Terima kasih Ami.. aku memekik senang. Permasalahanku satu persatu harus terselesaikan.

Besok sepulang kerja kita kesana oke? Malam ini aku janji mau menemani pacarku ke pesta ulang tahun temannya jadi, yah kau tahu? Wanita perlu persiapan yang tidak sebentar untuk itu. Aku yang mengerti hal itu memutuskan untuk pergi dari tempat Ami, sebenarnya aku juga sudah lama tak memanjakan tubuhku di tempat perawatan tubuh itu. Hah. Semoga gaji pertamaku segera turun.

***
3rd POV

Sore harinya Rendra memacu Audi R8 nya dengan sedikit kencang. Dia sedikit tertekan dengan tingkah ibunya yang selalu cerewet minta menantu. Setiap dia pulang ke rumah, pastilah itu yang dibicarakan. Seringkali ibunya mengenalkannya dengan beberapa perempuan agar Rendra mau sedikit saja melirik mereka. Tapi dia sama sekali tak tertarik, Rendra lebih memilih untuk berjuang mendapatkan wanita itu. Sheila adalah satu-satunya yang dia inginkan untuk menjadi pendamping hidup. Tidak ada yang lain lagi. Tapi sepertinya rencananya tak begitu mulus berjalan. Dia seringkali membuat wanita itu kesal walaupun Rendra tak ada maksud untuk membuatnya marah. Dan kejadian kemarin itu sungguh membuatnya frustasi. Hm, mungkin sekali-kali dia harus melampiaskan hasratnya di tempat biasa. Dengan cepat Rendra memutar arah mobilnya menuju salah satu club yang sudah lama tak dia kunjungi.

Hei bro, kemana saja? Sudah lama tak kesini! ucap seseorang yang melihat Rendra memasuki ruangan yang penuh lampu gemerlap. Lelaki itu Endo, lelaki yang dulu dikira pacarnya Rendra.

Tanpa banyak bicara, Rendra memesan segelas martini untuk mengisi tenggorokannya. Mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan.

Apa karena wanita itu? Tanya Endo sekali lagi. Rendra menjawab tanpa menghadapkan wajahnya pada Endo.

Wanita mana maksudmu? katanya sambil tetap asyik memandangi bokong seksi para wanita yang sedang asik menari di sana.

Haha, jangan pura-pura. Sekretarismu itu, siapa namanya? Bukankah kau menyukai dia? Endo semakin asyik menggoda Rendra yang seolah tak peduli namun Endo sangat mengenal Rendra. Dia tahu pertanyaan itu benar adanya.

Bukan urusanmu.

Oke, oke terserah. Tapi aku penasaran dengan wanita itu. Apa sebelumnya aku pernah bertemu dengannya ya.
Rendra sedikit melirik ke arah Endo, kemudian tersenyum. Huh, ingatanmu bagus juga..

Endo terbelalak mendengar jawaban Rendra. Apa? Jadi dia..dia.. tunggu tunggu, dengan keras Endo mencoba mengingat wajah Sheila sambil mengusap dagunya, wajah Sheila memang sangat familiar di mata Endo.

Argh.. sudahlah aku menyerah, aku tak ingat, dan sebuah pukulan ringan mampir di lengan Endo, Haha.. baiklah.. apa kau ingat gadis berbaju hijau yang duduk di sana? tunjuk Rendra pada salah satu kursi di ujung tempat itu. Sejenak Endo terdiam lalu mulutnya terbuka. Dia menggebrak meja walau tak sampai mengalahkan bisingnya musik yang diputar kala itu.

GADIS BERBAJU HIJAU!! Yeah! Aku ingat! Dia yang membuatmu jadi seperti orang gila itu kan? Sering datang kesini hanya untuk mencari gadis tak jelas itu?? Dan dia yang telah.. Endo menelan ludah, ragu untuk melontarkan kalimat selanjutnya.

Rendra terkekeh mendengarnya. Yah.. kau benar.. dia yang mengambil keperjakaanku.

Shit! Kau benar! Wanita itu! Hahahahaha..

TBC

Author: 

Related Posts