Cerita Sex Arimbi ( By : Siganteng_rusuh ) – Part 20

Cerita Sex Arimbi ( By : Siganteng_rusuh ) – Part 20by adminon.Cerita Sex Arimbi ( By : Siganteng_rusuh ) – Part 20Arimbi ( By : Siganteng_rusuh ) – Part 20 Hati Adalah Misteri ~~~oOo~~~ “Loh Rim… Kenapa malam malam ke sini? Bukan-nya Bimo aja yang di telefon suruh ke sana.” Tanya Bu Sriati begitu membukakan pintu. “Hehehe…” Arimbi hanya meringis sambil mencium tangan Bu Sriati seperti biasanya. Pintar… Di saat seperti itu Arimbi masih bisa merenges […]

multixnxx-Black hair, Asian, Gonzo, Tanned, High hee-7 multixnxx-Black hair, Asian, Interracial, High-res, -2 multixnxx-Black hair, Asian, Interracial, High-res, -7Arimbi ( By : Siganteng_rusuh ) – Part 20

Hati Adalah Misteri

~~~oOo~~~
“Loh Rim… Kenapa malam malam ke sini? Bukan-nya Bimo aja yang di telefon suruh ke sana.” Tanya Bu Sriati begitu membukakan pintu.

“Hehehe…” Arimbi hanya meringis sambil mencium tangan Bu Sriati seperti biasanya. Pintar… Di saat seperti itu Arimbi masih bisa merenges renyah seperti itu. “Arim ke kamar Bimo ya Budhe.” Pamitnya kemudian.

“Iya.” Bu Sriati mengangguk dan kemudian menutup pintu. “Kalian itu kenapa to cah bocah?” Sepintar pintarnya Arimbi berakting, tetap saja hati kecil Bu Sriati tidak bisa di bohongi. Pasti ada sesuatu yang terjadi dengan dua bocah itu, tapi entah apa.

Dulu Bu Sriati pasti akan ikut campur. Tapi sekarang? Sepertinya Pak Edi benar, Bimo dan Arimbi sudah sama sama dewasa. Mereka tidak perlu terus terusan di tatih untuk bisa berjalan. Mereka sudah bisa berjalan sendiri menentukan langkah-nya, bahkan mungkin mereka juga sudah bisa berlari. Mungkin.

“Apapun Ibu doakan yang terbaik buat kalian.” Doa Bu Sriati sambil melangkah menuju kamarnya. Sekilas Bu Sriati berhenti dan melirik ke arah pintu kamar Bimo. “Semoga kalian baik baik saja.” Guman-nya sambil tersenyum dan kemudian meneruskan langkah-nya.

Sementara itu di kamar Bimo. “Dia udah tidur.” Dengan sangat perlahan Arimbi mendekat dan duduk di pinggiran tempat tidur. “Aku cinta kamu Bim… Cinta.” Guman Arimbi lirih sambil membelai pipi Bimo dengan lembut. Kembali bulir air mata satu persatu mulai berjatuhan.

“Enggak.. Aku nggak boleh nangis. Enggak boleh.” Guman Arimbi berusaha menguatkan diri sambil buru buru menyeka air mata-nya.

Arimbi sejenak menahan nafas sambil memandangi wajah tampan Bimo yang sedang tertidur itu. Walau dalam remang remang, Arimbi bisa melihat jelas wajah tampan itu terlelap dengan begitu tenang dan damai. “Aku memang bodoh. Tapi aku cinta kamu…” Perlahan Arimbi mendekatkan wajahnya dan mengecup tipis bibir Bimo. “Sayang kamu Bim.”

“Eeengh…” Merasa sedang di perhatikan, Bimo perlahan mengejapkan mata dan… “Guasyu!” Sontak Bimo melonjak tersentak kaget. “Huaaaaa… Kuntilanaaaaak…” Dan langsung meloncat menghambur lari ketakutan. Tapi apes, saking panik-nya Bimo sampai menabrak pintu kamar. Jlagh!

“Bim…?”

“Hasyu setiaaan… Minggiaaat!” Bimo beringsut mundur ketakutan.

“Bim… Ini aku Bim. Arimbi.” Kata Arimbi sambil meraih saklar lampu. Byar…

Sebentar Bimo sedikit memicingkan matanya. “Fiuh…” dan akhirnya melengguh lega. “Hasem ik… Kirain kuntilalanak.” Gerutunya sambil kemudian perlahan tertatih berdiri. “Lagian ngapain sih malem malem ke sini? Bikin kaget aja!”

Arimbi hanya tersenyum tipis. Tidak boleh. Kali ini Arimbi tidak ingin terlihat lemah di depan Bimo. Dia harus terlihat kuat walau sebenarnya sedang remuk di dalam sana. “Aku mau ng…”

Belum selesai Arimbi menjawab. “Hei… Pada ngapain sih berisik amat?!” Sudah keburu Bu Sriati datang.

“Ada kuntilanak Buk.”

“Ada ada aja sih.”

“Iya… Beneran. Kuntilanak-nya Arimbi tu.”

“Udah ah, jangan berisik! Udah malem juga.” Putus Bu Sriati sambil kemudian berbalik dan menutup pintu.

“Kamu mau ngapain sih?”

“Aku udah nggak kuat… Aku nyerah.” Sahut Arimbi sambil perlahan mendekat dan memeluk Bimo. Bodoh. Akhirnya air mata yang sedari tadi mati matian Arimbi jaga akhirnya luruh juga.

“Hei…” Bimo berusaha melepas pelukan Arimbi. Tapi percuma, semakin Bimo berusaha semakin erat juga Arimbi memeluknya. “Kamu tu kesambet apa sih Rim? Dari kemaren dateng dateng memek… eh ups sorry, mewek. Dateng dateng mewek dateng dateng main peluk. Kamu itu maunya apa sih?”

“Hiks…” Arimbi semakin membenamkan kepalanya semakin dalam di dada Bimo. “Nggak usah ngelucu.” Sahut Arimbi di antara isakan-nya.

“Siapa juga yang ngelucu? Udah ah… lepasin.”

“Ngga mau!”

“Kamu itu maunya apa sih?!”

“Aku maunya di peluk kamu. Aku udah nggak kuat.”

“Hadewh…” Bimo melengguh kesal. “Kan udah aku bilang… Kalau nggak kuat lambaikan tangan ke kamera.”

“Aku serius Bimo.” Perlahan Arimbi mengangkat kepala, menyeka sudut mata-nya, dan kemudian menatap manik mata Bimo.

“Aku juga serius ARIMBI.” Sahut Bimo sambil mengeja tegas nama Arimbi dan balas menatap. Ajaib. Mata sayu berkaca kaca itu ternyata lambat laun mampu menggoyahkan Bimo. Ternyata masih seperti dulu, Bimo selalu lemah dan tidak berdaya menghadapi mata itu, menghadapi Arimbi.

Arimbi… Sebenci bencinya Bimo, sampai detik ini sebenarnya Arimbi masih bertahta di hati-nya. Arimbi masih ada, masih setia mengiringi setiap detak nadinya. Masih ada walau hanya tinggal sisa sisa. “Ya udah…” Lanjut Bimo mulai melemah. “Sekarang kamu maunya apa?”

“Aku mau kita balikan kek dulu lagi.”

“Hehe…” Sekilas Bimo merenges sinis. “Kek dulu laaagi? Udah nggak bisa Rim.”

“Kenapa nggak bisa?”

“Lepasin dulu.” Walau enggan, perlahan Arimbi melepas pelukan-nya. “Kamu sadar ngomong kek gitu itu Rim?” Lanjut Bimo sambil duduk di tepian tempat tidur. “Sekarang keadaan kita udah beda, bukan hanya sekedar antara aku ama kamu doang. Sekarang kamu udah ada Aditya dan aku udah ada Anita. Lagi pula… Kamu kan yang memulai ini semua.”

“Iya… Emang aku yang memulai dan aku emang bodoh udah sok coba coba. Tapi nggak usah aku bilang-pun kamu pasti tau kan kenapa aku begitu.” Perlahan Arimbi menyusul duduk di samping Bimo.

“Hehe…” Bimo tersenyum sinis. “Iya… Karena kita nggak bakal pernah bisa.”

Arimbi mengangguk pelan. “Tapi sekarang masa bodo dengan itu semua. Pokoknya aku mau kita balikan lagi kek dulu. Persetan dengan mereka, yang jelas aku bisa gila klo terus terusan jauh dari kamu. Aku cinta kamu Bim.”

“Nggak semudah itu Rim.”

“Terserah… Pokoknya aku mau kita balikan bagaimanapun caranya dan apapun resikonya.”

“Huh…” Bimo menunduk sambil menjambaki rambut-nya. Sumpah kali ini Bimo benar benar pusing. “Kamu masih tetep kek gitu aja sih Rim. Semaunya mau menang sendiri. Lagian juga dari mana asalnya kita bisa balikan? Emang kapan kita pernah pacaran?”

“Bodo! Aku ngga mau tau, pokoknya kita balikan.”

“Tapi sorry Rim… Aku bener bener nggak bisa. Kan kita sama sama tau klo kita nggak bakal pernah bisa kan?”

“Banci.”

“Kok…?” Bimo mendelik menatap Arimbi. Aneh… Wajah sayu Arimbi tadi sudah hilang entah kemana.

“Iya… Kamu banci. Kamu cowok nyebelin yang suka ingkar janji. Oh iya… Bukan cuma itu doang, kamu juga ingkar dari tanggung jawab.”

“Maksud kamu apa sih?”

“Kamu lupa dulu pernah janji akan selalu ada buat aku. Kamu lupa kalau kamu juga udah janji mo maafin apapun kesalahan aku. Kamu lupa kalau kita…”

“Iya… Sampai kita bisa untuk saling ikhlas melepaskan.” Putus Bimo meralat celoteh Arimbi tentang janji mereka dulu. Janji yang sebenarnya Arimbi sendiri yang pertama mengingkari. Tapi sekarang malah dia yang menagih janji itu. Dapuk!

“Dan sekarang aku belum siap. Aku nggak ikhlas kehilangan kamu.”

“Hehe…” Sekilas Bimo tersenyum sinis. “Dulu aku juga nggak siap Rim.”

“Ya terus kenapa kamu nggak nagih janji kita itu?”

“Renyah banget kamu kalau ngomong.”

“Terserah. Pokoknya aku nggak mau tau. Mau nggak mau bisa nggak bisa pokoknya kita balikan. Aku tagih janji kita dulu. Kalau kamu bukan banci berarti nggak ada alasan buat ingkar janji.”

“Hedewh.” Bimo mendengus lemah bingung setengah mati. “Sebentar, aku mo nanya dulu. Dulu kenapa kamu tiba tiba begitu?”

“Karena kamu nakal.”

“Naaakal?”

“Iya… Kamu nakal udah nodain aku.” Bimo mendelik semakin bingung. “Ketiban spermo. Pelecehan itu namanya.” Lanjut Arimbi menjelaskan alasan-nya dulu.

“Cuma karena itu doang?” Arimbi mengangguk. “Aneh kamu itu. Kalau cuma gegara itu kenapa baru itu kamu sakit ati? Bukan-nya udah dari dulu kamu aku lecehin. Terus apa bedanya?” Arimbi terdiam bingung mau menjawab apa. Kenapa dulu dia tiba tiba begitu Arimbi sebenarnya juga tidak tau pasti. “Kenapa diam? Bingung kan?”

“Enggak… Aku nggak bingung.” Sahut Arimbi langsung.

“Terus?”

“Ka-karena… Karena waktu itu aku mulai yakin kita udah waktunya belajar. Tapi ternyata aku salah Bim. Nyatanya aku belum bisa, sekuat apapun aku berusaha aku tetap belum bisa.”

“Hehe…” Bimo kembali tersenyum sinis. “Kamu itu aneh.”

“Terserah kamu mo bilang aku aneh ato apa, terserah. Yang jelas sekarang aku mau kita kek dulu lagi. Aku tagih janji kita dulu.”

“Ngawur kamu itu. Terus Aditya ama Anita mo di kemanain?”

“Putusin.”

“Enak aja kamu kalau ngomong, renyah kek krupuk kulit.” Sahut Bimo sambil mengusap wajah-nya. “Udah ah… Pulang sono aja gih. Aku ngantuk mo tidur.”

“Nggak mau.”

“Lha terus?”

“Mo bobok sini. Mo di pelukin ama kamu.”

“Terserah!” Sahut Bimo kesal sambil naik ke atas tempat tidur dan di susul Arimbi dengan ceria. Senyumnya terkembang lebar telah terselamatkan dari ambang gila karena memendam rasa. Bimo adalah miliknya. Apapun yang terjadi hanya miliknya. Dari dulu sekarang dan nanti hanya miliknya. Hanya!

oOo
“Untung aja hatiku ini bukan made in China Rim.” Guman Bimo sambil menatap Arimbi yang tertidur damai memeluk-nya. “Kalau aja… Pasti udah rusak parah kamu garap kek gini.”

Perlahan tanpa sadar Bimo membelai lembut rambut Arimbi. Ini bodoh. Seharusnya Bimo menolak setelah apa yang sudah Arimbi lakukan. Tapi ini… Nyatanya Bimo selalu tidak berdaya menghadapinya. Bimo lemah setiap menghadapi Arimbi.

Padahal melakukan ini lagi sama dengan ngalamat. Rasa yang hampir mati dan terganti Anita perlahan lambat laun mulai terasa lagi. “Sebenarnya aku juga cinta kamu Rim. Tapi…”

“Aku juga cinta kamu Bim.” Sahut Arimbi tiba tiba sambil masih terpejam dan semakin mendusel erat memeluk Bimo.

“Loh… Belum tidur kamu?”

Perlahan Arimbi membuka mata, mendongak menatap Bimo dan tersenyum manis. “Aku nggak bisa bobok-nya.”

“Kenapa?”

Perlahan Arimbi beringsut mendekat ke telinga Bimo. “Pengen di grepe grepein kamu.” Bisiknya pelan sambil menggigit manja kuping Bimo.

“Eeeengh…” Bimo sedikit bergidik geli. “Apa apaan sih ah.”

Arimbi hanya tersenyum dan kemudian meraih tangan Bimo ke dadanya. “Remas Bim… Biar makin montok.”

“Dih… apaan sih?!” Reflek Bimo langsung mengibaskan tangan-nya. “Udah deh… Jangan mulai nganeh nganehi napa sih.”

“Kan biar nggak setelangkupan tangan kek kata kamu waktu itu.”

“Hm…”

“Bodo… Orang akunya pengen.” Perlahan Arimbi bangun dan kemudian melolosi gaun tidurnya. “Emang kamu nggak pengen?” Sambungnyaa sambil membuka kaitan dan melepas bra nya. “Beneraaaaan?” Goda Arimbi sambil membelai sepasang dada-nya genit.

“Rim?”

“Tadi katanya cinta ama aku?”

“Iya… Tapi kan sekarang nggak bisa sesederhana itu Rim… Aku kan udah ada An…”

“Stop!” Putus Arimbi sambil kemudian menyambar bibir Bimo. “Jangan ngomong.” Buas Arimbi langsung melumat bibir Bimo, mengecapi setiap inci-nya tak bersisa.

“Apa ini?” Batin Bimo bingung dengan perasaan-nya sendiri. Hatinya menolak, tapi tubuhnya merespon mesra menyambut kenakalan Arimbi itu. Perlahan bibir Bimo terbuka, memberi akses penuh Arimbi masuk dan mengaitkan beradu lidah. “Ini…”

Perasaan ini sama dengan waktu itu. Waktu dulu mereka pernah bercumbu dan berakhir dengan tendangan telak Arimbi di selangkangan-nya. “Bukan… Ini malah lebih.” Iya… perasaan yang bermain kali ini lebih besar dari waktu itu. Mungkin ini rasa yang sesungguhnya, rasa cinta yang sebenarnya.

“Ah… Masa bodo!” Bimo sudah gelap. Nafsu sudah memberangus kewarasan dan logika-nya habis. Dengan sedikit kasar Bimo membalik dan menindih Arimbi sambil terus berpagutan liar. Sementara Arimbi hanya pasrah. Hatinya berbunga bunga bahagia mendapati Bimo ternyata menyambutnya sehangat ini.

“Aaaaah…” Arimbi melengguh pelan sambil menggigit bibir bawahnya saat Bimo bermain mulut di dadanya.

Waktu terasa seakan berhenti. Dunia seolah kosong dan hanya tinggal menyisakan mereka berdua bergulat mesra. Segala fikiran benak dan pergulatan batin seketika menguap lepas hanya tinggal menyisakan cinta. Cinta yang hangat panas dan membara. Dan mungkin cinta sejati yang sebenarnya.

“Eeeengh… Bim.” Tanda merah cupangan habis membaluri sekujur dada Arimbi.

Susah di jabarkan lewat tulisan. Tau tau Bimo dan Arimbi sudah bergumul dalam keadaan tanpa sehelai benang sama sekali. Mereka bergumul mengamit saling merabai dan terus berpagutan liar. “Aaaaaeh…” Desahan dan lengguhan nafsu sayup semakin erotis dan berirama.

“Aku sayang kamu Bim.”

“Aku juga cinta kamu Rim.”

Sesekali ungkapan rasa itu menyela di antara panas nafsu yang -mungkin namanya- menggelora. Ungkapan jujur apa adanya tentang rasa mereka sebenarnya. Rasa yang selama ini dengan bodohnya berusaha mereka ingkari. Rasa indah yang sebenarnya salah.

“Rim…” Arimbi mengangguk mempersilahkan Bimo yang sudah siap di posisi-nya. Arimbi ikhlas. Lahir batin dia ikhlas mempersembahkan kehormatan-nya untuk Bimo yang teramat sangat di cintainya.

“Aaaauch… Sa-sakit Bim.” Rintih Arimbi saat Bimo menekan pinggulnya pelan. Perih… Tubuh Arimbi terasa terbelah dua, tapi dia bahagia sekaligus bangga. Satu dua air mata mulai menetes tapi itu air mata bahagia. “Bentar Bim.” Ujar Arimbi sambil mendekap Bimo erat.

Dengan lembut Bimo menyeka bulir air mata di pipi Arimbi. “Kamu nyesel?” Arimbi tersenyum sambil menggeleng pelan. “Aku sayang kamu Arimbi.” Ujar Bimo sambil sekilas mengecup bibir Arimbi.

Sesaat tubuh mereka terpaku menikmati sensasi sejati dari rasa mereka. Persembahan yang seharusnya suci atas nama cinta.

“Eeeeeemh…” Akhirnya Arimbi tidak bisa menahan melengguh saat Bimo perlahan mulai menggoyangkan pinggulnya. Awalnya pelan berirama dan lambat laun perih itu tak lagi terasa. Pelan Arimbi mulai mengimbangi, menggeliat erotis mendaki puncak cinta mereka.

“Aaaaaaauh… Bim…”

“Rim… I love you.” Balas Bimo sambil semakin liar menggoyakan pinggul-nya. Arimbi merintih dan mendesah tertahan. Pelukan-nya semakin erat seakan ingin melebur tubuhnya dan Bimo menjadi satu.

Nafsu itu benar benar telah membuat Arimbi dan Bimo lupa dengan semuanya. Lupa dengan ironi yang mereka jalani, lupa dengan Anita dan Aditya yang mungkin tersakiti karena ini. Dan yang paling parah, mereka lupa dengan resiko yang mungkin terjadi.

“Aaaaaaaah…” Arimbi semakin erat memeluk saat Bimo menumpahkan segala amunisi-nya di dalam. Bersamaan mereka telah sampai di puncak tertinggi cinta mereka.

oOo
Tik tok tik tok tik tok… Deru nafas mereka berpacu memburu di iringi detak jam yang terpaku rapi di dinding kamar. “Kok kita jadi gini sih Rim?” Ujar Bimo sambil merengkuh Arimbi semakin dalam ke pelukan-nya. Sudah berakhir, tapi sisa sisanya masih terasa.

“Kenapa? Kamu nyesel?”

Bimo menggeleng pelan. “Tau deh… Bingung.”

“Bim… Kamu yang pertama ambil ciuman pertama aku. Kamu yang pertama nakalin aku. Dan sekarang…” Perlahan Arimbi meraih celana dalamnya yang terserak dan kemudian menyeka pelan bekas Bimo di selangkangan-nya. Sekilas Arimbi tersenyum mendapati noda merah darah perawan-nya di calana dalam putih itu. “Kamu juga sudah ambil ini.” Lanjutnya sambil menunjuk-kan noda merah itu.

Bimo sebentar melengguh berat. “Tapi Rim… Tadi aku di dalam.”

“Terus?”

“Terus ntar kalau kam-kamu ha-ham…”

“Aku hamil?” Sahut Arimbi mempertegas yang langsung di sambut anggukan lemah Bimo. “Bagus…” Sambung Arimbi sambil tersenyum manis dan mengecup pipi Bimo.

“Kok?”

“Bapaknya Bimo Emaknya Arimbi. Kalau cowok pas… Namanya Gatotkoco.”

“Serius ini Rim…”

“Emang aku kelihatan becanda gitu?”

Sebentar Bimo menatap tajam tepat di manik mata Arimbi. Dan benar… Tidak terlihat sorot bercanda di mata cantik itu. “Terus Anita ama Aditya gimana?” Lanjut Bimo teringat dua orang yang mungkin tersakiti karena ini.

Sontak Arimbi merengut. Mendengar nama Anita, apalagi itu terucap dari mulut Bimo sangat sangat dia benci. Anita seharusnya tidak dan jangan penah ada, lagi. “Putusin!” Sahut Arimbi ketus.

“Njier!” Bimo kembali melengguh berat. Memutus Anita? Itu bukan perkara mudah, apalagi mereka juga baru berpacaran. Terlebih lagi berarti bakal dua kali Anita tersakiti karena mereka. Sungguh ironi. “Tau deh…” Bimo perlahan beringsung turun dari tempat tidur.

“Mau kemana?”

“Mandi.”

“Ikut…” Sahut Arimbi manja sambil kemudian menyusul turun. “Auch!” Arimbi langsung meringis tersimpuh di lantai.

“Kenapa Rim?”

“Sakit… Nggak bisa jalan.” Perlahan Bimo mendekat dan kemudian menggendong-nya. “Mandiin ya?” Ujar Arimbi manja sambil mengalungkan lengan-nya mesra. Sekali dua kali kecupan mesra menyasar pipi Bimo.

“Iya.”

Pagi ini saat matahari masih asik terlelap mimpi, saat semua orang masih nyenyak di buai kabut dingin, Bimo dan Arimbi telah menembus batasan yang seharus-nya tabu buat mereka. Tak seharusnya ini terjadi, tapi… Cinta memang gila. Cinta itu lebih rumit dari rumus rumus Aljabar. Dan yang pasti… Hati adalah misteri.

~~~oOo~~~

Bersambung

Author: 

Related Posts