Cerita Sex LDR? Mana Tahan~ ( Nisa Dan Rudi ) – Part 18

Cerita Sex LDR? Mana Tahan~ ( Nisa Dan Rudi ) – Part 18by adminon.Cerita Sex LDR? Mana Tahan~ ( Nisa Dan Rudi ) – Part 18LDR? Mana Tahan~ ( Nisa Dan Rudi ) – Part 18 *rudi* “Aah, Nisa enak banget, punya aku masuk, sempit banget,” aku berseru sambil mengocok penisku. Membayangkan aku memasuki tubuhnya, yang hangat. “I-iya, pu-punya Rudi masuk, ge-gede banget, ga muat di punya aku.” Aku tak sangka Nisa bisa mengikuti keinginanku, birahiku semakin naik saat mendengar […]

multixnxx- Maki Koizumi Maki Koizumi with big chest-1 (1) multixnxx- Maki Koizumi Maki Koizumi with big chest-1 multixnxx- Maki Koizumi Maki Koizumi with big chest-2 (1)LDR? Mana Tahan~ ( Nisa Dan Rudi ) – Part 18

*rudi*

“Aah, Nisa enak banget, punya aku masuk, sempit banget,” aku berseru sambil mengocok penisku. Membayangkan aku memasuki tubuhnya, yang hangat.

“I-iya, pu-punya Rudi masuk, ge-gede banget, ga muat di punya aku.”

Aku tak sangka Nisa bisa mengikuti keinginanku, birahiku semakin naik saat mendengar desahan Nisa yang biasanya terucap saat kulitnya menggesek kulitku.

” Aku gerakin ya? ” tanyaku dengan mata terpejam. Aku tak pernah menyangka phone sex bisa semenarik ini.

Horny banget. Ah kalau saja Nisa beneran ada di dekatku, sudah habis dia. “Rudi..sambil remas dong ..hh,”

“Iya, nih aku remes. Aku nyusu juga yank. Enak banget yank payudara kamu. Gede, seksi,” aku membayangkan payudara Nisa yang sempurna. Kulitnya mulus, bentuknya yang bulat sempurna, proposional dengan badan Nisa, putingnya yang mencuat mancung, matanya menatapku sayu, “Aw!” aku berseru.

“Rudi kenapa?” tanya Nisa panik.

“Eng-engga,” aku menjawab sambil mengelus-elus penisku. Karena membayangkan payudara Nisa, aku tak sengaja meremas penisku dengan kencang.

“Ih kenapa? Jangan bikin aku khawatir dong.”

“I-itu, tadi aku bayangin payudara Nisa, terus aku ga sengaja remes itu aku kekencengan, hehe” aku menjelaskan. Runtuh sudah reputasi aku sebagai suami yang cool.

“Hahahaha, dodol ih Rudi. Kasian itu nya Rudi, jadi kecil lagi dong?” Nisa bertanya sambil tertawa. Sialan, aku diketawain Nisa.

“Engga lah, masa begitu doang kecil, tapi sakit beneran nih, kamu sih,” Aku menyalahkan Nisa. Ya iyalah Nisa yang salah, kan gara-gara mikirin payudara dia.

“Loh kok aku sih? Kan Rudi sendiri yang salah,” Nisa tak terima aku salahkan. Ia masih menahan tawanya.

“Iya lah kamu, kan gara-gara aku mikirin kamu. Nisa harus tanggung jawab!”

Aku balas kamu sayang, aku bikin kamu horny sendirian, hehehehe.

“Tanggung jawab gimana?”

“Kamu pegang punya aku.”

“Apasih? Rudi mesum banget!” Nisa memprotes permintaanku. Tapi aku mendengarnya menahan senyum, hehehe.

“Tapi kamu mau kan?” aku menggodanya, berharap Nisa terangsang dan mau mengikuti permainanku.

“Ih, apaan sih? Iya deh, daripada aku durhaka sama suami. Nih uda aku pegang.”

Aku memegang penisku sambil membayangkan tangan Nisa berada di sana.

“Enak yank. Tangan kamu lembut banget,” napsuku kembali menanjak.

“M-Mau aku masukin mulut ga?”

Wow. Aku baru tahu Nisa bisa senakal ini.

“Mau dooong. Emang Nisa mau?” aku bertanya dengan nada riang.

“Mulut aku lagi cium-cium itu nya kamu nih. Kerasa ga?”

Sial.. andai saja ini nyata “Kerasa dong. Aku juga sambil remes payudara Nisa nih, enak ga aku remas-remas gini?”

“Hmmph, enak banget.” tanyanya dengan nada seakan-akan sedang mengulum sesuatu. Pikiranku langsung membayangkan wajah polos Nisa sedang mengulum penisku.

“Uuh, enak banget yank, hangat banget yank mulut kamu,” kataku sambil mengocok semakin cepat.

“Hmmm, hmmm, hmmm,” Nisa bergumam seakan-akan menikmati mengulum penisku.aku mengambil bantal gulingku dan menjepitnya di antara paha, membuat penisku terhimpit antara tangan, paha, dan bantal guling.

“Aku masukin ya? “Iyahh.”

“Aku da tusuk nih yank. Aku gerakin ya yank,” aku mempercepat kocokanku.

“Iya, enak banget Rudi, aah aaah aaaah.”

“Yank, penis aku keluar masuk yank! Aku remes-remes payudara kamu ya. Aku nyusu ya yank!” aku berseru semakin keras.

“Hmmph, iya, enak banget. Remes yang kenceng Rudi. Aaah, ” desahan Nisa yang semakin sering membuatku semakin bersemangat memaju mundurkan penisku dengan tangan.

“Nisa, enak banget! Hmmmuuaaach! Aku sambil kulum bibir kamu,” Saat ini aku sudah tak bisa lagi membedakan kenyataan dan khayalan, nafsuku sudah di ujung tanduk. Sperma yang mengumpul berhari-hari bagai botol yang dipenuhi air itu akhirnya tumpah, tersembur.”Iya, Nisa! Uuuh! Aaaah! Hmmphh! Aku, aku keluar…”

Lega rasanya. Spermaku berceceran di tangan dan kasurku. Terdengar desah kelelahan Nisa di seberang telepon

“Hah! Hah! Aku cape!”

“Aku juga cape Nisa, makasi ya. Muuaach,” aku berkata lembut sambil mengambil tissue di samping ranjang.

“Iya, sama-sama. Eh, Rudi pasti iri sama si Rudolf boneka beruang aku.”

“Iri kenapa yank?”

Kok feelingku ga enak ya? Si Rudolf pasti macem-macem nih sama si Nisa.

“Iya, tadi pas lagi bayangin Rudi, aku sambil meluk Rudolf di dada aku..”

Aku terdiam. Kalah sama boneka.

“Mulai besok Rudolf ga boleh tidur di kamar!”

“Hah? Enak ajaaa. Kalau disuruh pilih Rudolf atau Rudi, aku pilih Rudolf lah. Ya uda aku mau mandi dulu, Rudi mau ikut ga? Eh, tapi jauh ya? Aku ajak Rudolf aja deh. Daaaagh!”

Tut! Tut! Tut!

Author: 

Related Posts