Cerita Sex Bermain Hati, Bagian Empat – Part 12

Cerita Sex Bermain Hati, Bagian Empat – Part 12by adminon.Cerita Sex Bermain Hati, Bagian Empat – Part 12Enam – Part 12 BAB III Bermain Hati, Bagian Empat Oke, sok Sok sok sok, lo yang duluan, kan pertamanya juga kalian pada yang mau nunjukin. Udin dan Icha saling pandang. Kini mereka mulai merasakan panik yang teramat sangat. Malu dan tegang. Lah, katanya tadi berani Cha? Lidya menambahkan dengan nada merendahkan dan senyum sinis […]

tumblr_nvkze6UCTE1upoknao1_500 tumblr_nvpguoHnue1qc0vxho1_500 tumblr_nvrkinLqJf1uhenvdo1_250Enam – Part 12

BAB III
Bermain Hati, Bagian Empat

Oke, sok
Sok sok sok, lo yang duluan, kan pertamanya juga kalian pada yang mau nunjukin.
Udin dan Icha saling pandang. Kini mereka mulai merasakan panik yang teramat sangat. Malu dan tegang.
Lah, katanya tadi berani Cha? Lidya menambahkan dengan nada merendahkan dan senyum sinis di bibirnya.
Okeh, siapa takut? Icha langsung memeluk Udin dan mencium bibirnya. Udin juga mungkin berfikir jalanin aja, toh nanti dia bisa melihat Lidya tanpa busana. Dan dia mulai membalas ciuman Icha, dengan lebih bernafsu. Namun kemudian Udin berhenti. Serius nih harus buka-bukaan?
Yaelah, serius dodol. Sana.
Awas siah mun ada kamera.
Kagak bakal. Nyantey aja bro. Maen sana.

Kemudian Udin kembali menciumi Icha, dibawanya Icha menempel ke tembok kostan Lidya. Diremasinya buah dada Icha keras.
Hmmmppp. Ahhhssss…. Icha mulai merintih dan mendesah tidak menentu. Tangan Icha mulai melepas kancing celana Udin, dan dengan cepat melorotkan celana panjang Udin, tidak tinggal diam, Udin melepaskan semua kancing kemeja Icha, dan juga BH yang Icha kenakan. Kini terlihat topless, Icha semakin menggairahkan di mata Udin, bahkan Gusti pun merasakan hal yang sama. Tanpa sadar, adeknya sudah sangat keras. Lidya sendiri sudah beberapa kali menelan ludah, ini hal gila yang baru dia lakukan, melihat orang lain bermesraan. Lidya mengambil kursi dan duduk di sebelah Gusti.
Ciuman Udin sudah turuh ke leher Icha, dan terus turun sampe ke dada kanan. Dijilatinya puting Icha yang sudah tegang sedari tadi, digigitnya bagian bawah dada Icha. Ah, Udin, hmmmmppp.

Dan kembali Udin menurunkan ciumannya, kali ini sasarannya adalah perut Icha yang rata. Dimainkannya pusar Icha dengan lidah, sambil kedua tangan Udin melepaskan celana jeans Icha, tak lupa pula CD nya, Icha kini sudah bertelanjang bulat.
Di sebrang ruangan, Gusti yang sudah bernafsu sedari tadi mulai duduk dibelakang Lidya, kedua tangannya sudah merekasi kedua buah dada Lidya. Lidya sendiri menyandakan kepalanya di dada bidang Gusti, nafasnya terdengar cepat dan berat.

Aaaaakkkkhhhhhhhhhh. Udin kini sedang mempermainkan klitoris Icha dengan lidahnya, Icha sendiri terlihat sudah tidak kuat mempertahankan tubuhnya untuk tidak ambruk. Kaki kirinya memang kini berada bahu Udin, kaki kanan Icha lah yang masih menapak di lantai. Jari-jari Udin membuka vagina Icha lebih lebar, dan lidahnya masuk lebih dalam ke lubang vagina Icha.
Udin berdiri, mulutnya belepotan dengan cairan vagina Icha, membuka bajunya dan melepaskan celana dalamnya, penis Udin sudah berdiri tegang, dan dia berbalik ke arah Gusti, tertegun. Dihadapannya terlihat Lidya yang sudah tidak menggunakan pakaian bagian atasnya. Kedua buah dadanya yang tidak terlalu besar itu di remas oleh Gusti, bibir mereka saling melumat.

Heh, Betawi, mana liat punya lo?
Gusti menghentikan aktifitasnya, berdiri dan langsung membuka celananya, penisnya lebih besar dari Udin diameternya, namun milik Udin lebih panjang. Mereka berdua tersenyum, namun tidak lama. Gusti langsung memasukan penisnya ke mulut Lidya yang duduk di kursi, dan Udin pun melakukan hal yang sama, disuruhnya Icha berlutut dihadapannya, dan diapun memeasukan penisnya, ke dalam mulut Icha.
Hmmm,mmmmmm,sss,mmmmmmmm. Desahan dan rintihan keluar dari mulut Lidya dan Icha ketika mereka mengoral penis pasangannya masing-masing.
Tidak lama, Udin menarik Icha ke kasur, menidurkannya dan melakukan breast fuck. Ukuran dada Icha yang lebih besar dari Lidya membuat hal ini lebih nikmat. Gusti pun menyadari hal itu. Namun tidak lama, Gusti minta Lidya ganti posisi, kini Gusti yang duduk, dan Lidya didudukan dipangkuannya.
Blessss. Penis Gusti masuk di vagina Lidya, mulutnya kembali melumat buah dada Lidya, tangan kirinya memainkan puting kanan Lidya, memutar-mutarnya seperti mencari frekuaensi, Lidya sendiri seperti kesetanan menaik turunkan pinggangnya, kadang memutarnya sehingga Gusti merasa penisnya dipermainkan di dalam sana.
Aaahhh, akh, aahhh…..jrit, enak banget Gus, ah, yah, terus keras Gus, memek ku penuh Gust. Ah, ah.

Yah, memek lo emang nikmat banget Lid, hah hah, anjrit, sempit banget sayang.
Bibir mereka kemudian bertemu, saling lumat dan saling gigit. Kemudian Gusti mengangkat badan Lidya, membalikannya, den kembali memangu Lidya, penisnya pun kembali menemukan lubang kenikmatan Lidya, keduatangannya bergerak ke depan, ke arah buah dada Lidya, meremasnya dengan keras. Lidya sendiri kembali menggoyangkan badannya, berusaha memasukan penis Gusti sedalam-dalamnya.

Di ranjang Udin terus menggesekkan penisnya ke vagina Icha, namun melihat apa yang dilakukan pasangan yang ada di samping mereka, jelas membuat Udin iri dan sangat bernafsu. Dia melihat Icha, matanya pun sama, tefokus pada Lidya dan Gusti yang sedang bermain tanpa lelah walaupun keringat sudah bercucuran. Lidya yang masih menggunakan rok mini tanpa pakaian atasan yang sedang naik turun dan bergoyang, dadanya dipermainkan oleh Gusti dari belakang.
Melihat ini Udin terdiam, kemudian dia menatap dalam mata Icha, terdiam, kemudian Icha mengangguk. Udin lalu meraih penisnya, mengarahkannya ke lubag Vagina Icha, perlahan, kepalanya masuk.

Aaahhhh, pelan-pelan say, sssshhhhhhhhhhhhhhh, sakitttt.
Heh, aaahhhhh, yakin kamu mau masukin, aaa, pelan Gus, masuk ah, masukin itu? Lidya bertanya ke Udin. Tidak menjawab, Udin malah terus mendorong pinggulnya, masuk setengah, dan Icha kembali merintih kesakitan.
Heheh, ayo Din, ah, lo pasti bisa. Gusti memanasi.
Aaaaaahhkkkkkk, sakkkkit. Udin. Aahhhhhh. Dan akhirnya Udin memasukan semua penisnya yang pajang itu ke dalam vagina Icha. Mereka berdua diam sesaat. Menarik nafas, mengatur nafas. Icha sendiri menangis, air matanya mengalir.

Sakit Din. Banget ini mah. Hiks.
Sabar sayang, awalnya doang ko. Udin mengecup kening Icha, lalu mulai menarik penisnya keluar.
Isssshhh, aukh, pelan, sakit.
Seluruh penis Udin tercabut, dan dari sela-sela vagina Icha terlihat darah mengalir. Begitupun di penis Udin, ada sedikit darah menempel disana. Tidak untuk waktu yang lama Udin berdiam, kembali ia menusukan penisnya.

Hmmppp, sempit banget Cha, enak banget memek kamu Cha. Hah, hah. Mulai memompan perlahan pelan. Lalu Udin mulai mempercepat genjotannya. Icha masih terlihat belum menikmati. Dia masih menangis.
Hah, gelo, memek kamu Cha, sempit banget.
Goblog, hah, hah, jelas lah sempit, kamu baru aja merawanin dia, aaahhhhhkkk, Gusti, bilang dong kalo mau masuk ke situ.

Udin melihat kesamping, ternyata kini Lidya sedang nungging, dada dan perutnya ada di kursi, Gusti sedang menikmati lubang anus Lidya.
Weits, hah, ditusuk oge eta bujur Lid, hah, aahh, jrit, peret Cha. Udin berkomentar. Namun entotannya tetap cepat, sampai Icha menegang, berteriak Aaaaaaaaaahhhhhhhhhhhh… keluar, keluar, ahhhhhh.

Udin mendengar itu semakin bernafsu, semakin cepat genjotannya, dan dia merasakan mau keluar. Takut Icha hamil, Udin mencabut penisnya, dan crrottt, spermanya tumpah di perut rata Icha. Nafas mereka masih ngos-ngosan ketika mereka melihat Gusti selesai memuncratkan spermanya di mulut Lidya.
Setelah beristirahat sebentar, Lidya membuka rok mininya, hingga kini ia sama seperti Icha, telanjang bulat. Melangkah mendekati Icha, memeluknya, Cup cup, saya tau tadi sakit, tapi entar juga bakalan terbiasa ko. Tahan ya?
Icha hanya mengangguk. Enak si enak, tapi sakit. Jawab Icha sambil meringis. Mendengar itu semua tertawa. Gusti mendekati Lidya dan Icha, Enak Cha dientot kontol si Udin yang item dan kecil itu?

Anjing siah, emang nu aing lebih kecil, tapi lebih panjang men. Dan mana, yey, sarua hideungna. Sama-sama item juga gak usah saling menghina lah. Nu penting, baru juga nyobain, bisa tahan lama. Padahal memek Icha masih sempit.
Heh, maksudnya apa Din? Memek saya udah gak sempit gitu? Hah, mau coba? Lidya menantang Udin dan langsung relfeks di jawab Mau!
Merasa salah bicara Udin terdiam. Keheningan terjadi, detik jam bahkan terdengar. Sampai Gusti menjawab. Okeh, lo cobain punya Lidya, rasain betapa nikmatnya memek cewek gue. Tapi gue juga mau nyobain memek Icha. Giamana?

Icha kemudian menoleh ke arah kemaluan Gusti, besar. Memang tidak sepanjang milik Udin.
Hah, saya ini baru kehilangan keperawanan, masa dah mau digilir.
Udah, gak apa-apa, ngebiasain Cha, udah, sini kamu Din, entotin nih memek. Lidya berkata sambil menunjuk memeknya. Entah apa yang ada dipikiran dia sampai mengajukan ajakan seperti ini, namun rupanya suasana sudah membuat pikiran mereka berempat ancur.
Tanpa diperintah dua kali Udin langsung mendekati Lidya yang terduduk di lantai kamar. Perlahan dan dengan gemetar yang kentara, Udin menyentuh wajah Lidya, lau kemudian menuburknya hingga Lidya telentang di atas lantai. Udin langsung menyambar bibir tipis Lidya, melumatnya dan menyedot lidahnya untuk masuk ke dalam mulut Udin.

Hmmppppfffff. Mmmmmm.
Tangan Udin menuntun penisnya ke arah lubang vagina Lidya, tidak sabar, dia langsung memasukan seluruhnya dalam sekali dorongan.
Aaaaaaaaahhhhhhhhhhh, pelan Dinnnnnnnn…
Icha hanya bisa melongo melihat kejadian itu, dan terkaget saat Gusti memegang kakinya, merangkak, Gusti mendekati kepala Icha yang duduk bersandar pada dinding di atas kasur. Perlahan mata mereka bertemu, lalu bibir mereka saling melumat, menggigit dan menyedot.
Mmmmm, slurp, ahhhhh. Tangan Gusti meremas buah dad Icha yang memang lebih besar dari Lidya, ini buah dada kedua yang dia remas, puting ke dua yang dia mainkan, dia sedot, gigit dan buah dada ke dua yang dia berikan cupang.

Melihat Lidya yang kini sedang melakukan Woman On Top, Gusti merasa nafsunya sudah ada di ubun-ubun. Begitu pula Icha, namun sebenarnya untuk memeasukan penisnya ke dalam Icha, Gusti masih berfikir dua kali, karena dia buakn tipe pemain, tidak seperti Bima atau Udin, dia bingung, apa harus melangkah lebih jauh atau berhenti sampai di situ. Namun belum habis Gusti berfikir, Icha sudah memegang penisnya, mengocoknya dan mendekatkan penis itu ke lubang vaginanya.
Pertahanan Gusti roboh, dan akhirnya dia memasukan penis itu ke dalam.
Aaaahhhhh, perih Gus, pelan ya?

Gusti mengangguk, pelan dia masuki Icha, sepertempat, setengah, tiga perempat, dan seluruh penis yang diamternya lebih besar dari penis pertama yang masuk itu membuat Icha tersentak. Merintih. Mendesah. Kembali air matanya turun, menahan sakit, Icha mencoba tersenyum ketika Gusti menanyakan apakah penetrasinya sakit atau tidak.
Tadinya Gusti akan menunggu beberapa saat untuk mulai menggenjot Icha, namun melihat keadaan Lidya yang sudah kepayahan menerima sodokan Udin, Gusti seakan ingin membalas dendam. Mulailah dia mengentot Icha, tanpa mulai dari pelan langsung cepat.

Haaaaaaaahhhhh, aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaakh. Icha berteriak. Bahkan mungkin teriakannya terdengar sampai kamar sebelah atau sampai beberapa meter dari kamar kost Lidya. Namun Gusti tidak peduli, dia terus menggenjot Icha.
Cha, memek kamu anget, sempittttt, hah hah, nikmat. Gusti kemudian mengangkat tubuh Icha, menyimpan bantal di bahah pinggang Icha, dan kembali menggenjot dengan kecepatan tinggi. Kaki Icha sudah direnggangkan, disimpan di atas bahu Gusti, dan dengan kecepatan yang tidak berkurang, Gusti membungkukkan badannya, kedua tangannya meraih buah dada Icha, meremasnya keras.

Ssssssshhhhh, ah, ah, enak Gust, terus. Ah, mau keluar, bentar lagiiiiiii. Gusti terus memompa dengan kecepatan yang sama, sampai akhirnya badan Icha menekuk, otot di lehernya sampai terlihat, dan Gusti dengan sengaja meremas kedua buah dada Icha keras-keras menambah sensasi orgasme yang Icha rasakan.
Hah, gila Din, kontol kami mentok banget ampe ujung, hah, keluar, masih lama ga?
Bentar lagii Lid, ahhh, nikmat, masih peret banget, padahal pasti sering dipake Gusti. Ah. Enak banget. Mau, hah, dikeluarin dimana nih?
Dalem lah, lebih enaaaakkkkkkkkk, ah, gila, nyampe ujung tah.
Hah, hah, ya, di dalem entar, bentar lagi tapi. Lidyaaaaaa……………… Ahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh. Udin menyemprotkan spermanya banyak di dalam Lidya, lebih banyak dari pada yang dia keluarkan tadi karena kali ini dia tidak harus menahan diri. Lidya pun kemudian menyusul, Ohhhhhhh…… Keluar juga Din….

Gusti masih belum keluar, dia terus menggenjotkan penisnya di vagina Icha. Heh Betawi, hah, entar, keluarin di luar lo. Jangan lupa. Udin mengingatkan Gusti. Untung dia mengingatkan, karena tak lama setelah itu Gusti menusuk dalam-dalam penisnya di dalam vagina Icha, menahannya beberapa detik kemudian menariknya. Mungkin idenya ingin mengeluarkan sperma itu di mulut Icha, namun belum sampe ke mulut, spermanya sudah menyemprot keluar, mengenai wajah, mata dan hidung Icha, membuat Icha gelagapan dan panik. Gusti meminta maaf, dan memberikan anduk kecil ke Icha untuk mengelap spermanya yang muncrat kemana-mana.
Dasar kamu, sini, saya bersihin penisnya. Lidya mengambil penis Gusti dan mulai menjilatinya, membersihkan semua sisa sperma dan cairan vagina Icha. Namun ternyata tidak berhenti sampai situ, Lidya terus menyedot dan menjilati penis Gusti, sampai penisnya kembali tegang. Ah, say, ngapain? Gila, gak cape.
Belum Gus, kagok. Hmmmmm.

Udin melihat ini kembali naik, dia mendekati Icha, namun melihat Icha yang terlentang sambil mencoba bernafasnormal dia merasa iba juga, kemudian melihat Lidya, yang kini sekarang sedang tertidur terlentang dan Gusti yang sedang mengentot mulut Lidya.
Hmm, memeknya bebas. Pikir Udin. Kemudian dia mendekati Lidya, mengangkangkan kakinya.
HHmmm, Din mau ngapai,,, aaaaahhhhh.

Udin memasukan penisnya sekali lagi ke dalam vagina Lidya, Gusti baru akan protes ketika Lidya kembali mencaplok penisnya. Dan kembali mengoralnya. Kini lubang atas dan bawah Lidya dimasuki dua penis. Ini hal baru bagi Lidya, dinikmati dua orang laki-laki pada saat yang bersamaan. Sensasinya beda. Gusti terlihat masih ingin protes, tapi isyarat mata Lidya membuat dia mengurungkan niatnya.

Mereka terus melakukan itu sampai Gusti mencabut penisnya dan meminta Udin tiduran, Udin melakukan apa yang diperintahkan Gusti, dan lalu Lidya diposisikan di atas Udin, blesss, penis Udin kembali masuk. Lidya kemudian mulai gerakannya, bergoyang sensual. Gusti kemudian memegang bongkahan pantat Lidya.
Heh say, ah, jangan-jangan kamu mau …. ahhhhhhhhhhh, gila, anjing, kaliannnn, akhhhhh, penuh.

Gusti memasukan penisnya ke pantat Lidya. Lidya mendongkakkan kepalanya, keenakan. Buah dadanya menggantung bebas, dan ini tidak disiasiakan Udin, dimainkannya puting Lidya. Gusti sendiri terus menusuk pantat Lidya, tangannya memainkan pantat dan pinggul Lidya.
Hahhhh, anjrit, mau keluar nih. Ahhh, kalian parah, ah ah ah ah, keluarrrrrr…. Lidya akhirnya keluar, lalu ambruk ke atas badan Udin. Mereka berdiam diri, Gus, tukeran Gus. Udin meminta. Gusti kemudian mencabut penisnya dari dalam pantat Lidya. Udin kemudian mengangkat badan Lidya yang sudah tidak bertenaga, menggulingkannya pelan kemudian bangkit. Gusti mengambil posisi Udin, dan Udin membantu Lidya untuk mengambil posisi, blesss, kali ini penis Gusti yang masuk ke vagina Lidya, Gusti mulai menaik turunkan pinggulnya, membantu Lidya yang sudah kepayahan. Dari belakang, Udin yang sudah memposisikan badannya, mulai memasuki Lidya, pelan, membiasakan penisnya dengan lubang pantat yang memang kecil, lalu blesss, masuk semua.
Aaahhhhhhh, abis nih memek ama pantat. Kalian edan. Curang, aaahhhhh.

Udin muai memompa. Pada saat itu, Icha yang sudah mulai bertenaga bangun, melihat kekasihnya sedang menikmati Lidya, dia tidak marah, malah nafsunya kembali naik. Mendekati Udin, memeluknya dari belakang kemudian kepalnya disodorkan ke depan. Bibir mereka kemudian saling lumat. Udin kemudian memposisikan Icha di sebelah kirinya, mereka berciuman sambil tangan Udin memainkan vagina Icha, memasukan jari tengahnya, lalu mengobel vagina Icha, ini dilakukan Udin sambil memegang pantat Lidya dan menggenjot pantat Lidya.

Terus sampai akhirnya Udin meraih orgasme, disemprotkannya sperma ke dalam pentat Lidya. Kemudian Udin menarik diri, membiarkan Lidya kini yang di genjot Gusti dengan gaya misionaris. Mengatur nafas sambil tangannya tetap di dalam vagina Icha, dan setelah nafasnya teratur, Udin meminta Icha melakukan woman on top. Dengan sisa tenaga yang dimiliki, Icha mulai bergoyang, berputar, naik dan turun.
Gusti dan Lidya sendiri sudah berhenti. Lidya sudah terkapar di atas lantai. Kakinya mengangkang, tangan kanannya melintang di atas wajahnya. Dadanya naik turun dengan cepat. Gusti sendiri beristirahat bersender pada meja.
Gila, pikir Udin Tapi enak bisa dapetin perawan Icha dan nyobain Lidya. Dream come true.
Udinnnn, Icha mau keluar.
Ya, sok, keluarin.
Ah, keluar Dinnnnnnnnnnn.
Memberi waktu icha bernafas sejenak, Udin lalu bangkit, memasukan penisnya ke dalam mulut Icha, mengentot mulutnya, Icha hanya bisa pasrah, mempertahankan agar mulutnya tetap terbuka. Tak lama Udin menarik penisnya, mengocoknya di depan wajah Icha, dan crroooooo. Kembali wajah Icha di hias oleh sperma.

——bersambung——

Author: 

Related Posts